Merenungkan Kematian dan Ketidakkekalan



Hasil akhir satu-satunya dari suatu kelahiran adalah kematian. Tak dapat dihindari, kita semua akan meninggal. Semua makhluk hidup selalu berakhir dengan kematian. Manusia mencoba banyak cara untuk mencegah kematian, tetapi itu tidaklah mungkin. Tak ada obat yang bisa menyembuhkan kita dari kematian.

Tetapi hanya dengan berpikir, “Saya akan meninggal” sesungguhnya bukanlah cara yang tepat untuk merenungkan kematian. Tentu saja, semua orang akan meninggal, namun hanya sekedar sepintas lalu mengingat fakta ini berulang kali tidak menghasilkan pemahaman mendalam. Ini bukanlah cara yang tepat. Sama halnya, hanya berpikir bahwa tubuh kita saat ini makin lama makin rusak dan menurun kemampuannya dan akhirnya akan mati juga tidak cukup. Hal yang harus kita pikirkan adalah bagaimana mencegah terjadinya semua itu.

Jika kita mengkontempelasi rasa takut yang akan kita alami saat kematian dan bagaimana cara meresponnya dengan lebih baik, meditasi kita tentang kematian akan berhasil. Orang yang telah banyak melakukan perbuatan buruk semasa hidupnya, merasakan ketakutan yang sangat besar saat kematian. Mereka menangis, air liur mereka meleleh, kotoran mereka keluar tanpa terkendali hingga mengotori pakaian tanda-tanda ketakutan dan derita yang muncul saat kematian disebabkan oleh perbuatan buruk yang diperbuat selama hidup.

Sebaliknya, jika semasa hidup kita menghindari perbuatan buruk, kematian akan sangat mudah untuk dihadapi. Kematian akan menjadi pengalaman yang membahagiakan, selayaknya seorang anak yang pulang ke rumah. Jika kita telah membersihkan diri kita sendiri, kita dapat meninggal dengan bahagia.
Dengan menghindari perbuatan tidak bajik dan memupuk kebalikannya, kematian kita akan sangat mudah dilewati dan sebagai hasilnya kita tidak akan mengalami kelahiran kembali dalam keadaan  Kelahiran kembali kita di alam yang lebih bahagia menjadi terjamin.

Apabila kita menanam biji dari tanaman obat-obatan, kita akan memperoleh tanaman dengan fungsi pengobatan; apabila kita menanam biji dari tanaman beracun, kita akan mendapat buah yang beracun pula. Sama halnya, jika kita menanam biji dari perbuatan bajik dalam arus batin, kita akan menuai kebahagiaan dalam kelahiran berikutnya, kita akan memperoleh kondisi yang mendukung, baik secara mental maupun fisik.

Ajaran tentang menghindari perbuatan tidak bajik dan melakukan perbuatan bajik ini bukan milik umat Hindu saja, namun juga diajarkan oleh agama lain.

Hanya sekedar berpikir bahwa, “Saya pasti akan meninggal” cara berpikir demikian bukanlah cara tepat untuk merenungkan tentang kematian, lalu bagaimana seharusnya kita merenungkan kematian dan ketidakkekalan?
Kita seharusnya berpikir, “Jika saya telah melakukan salah satu dari perbuatan tidak bajik, ketika saya meninggal, saya harus menghadapi ketakutan dan penderitaan luar biasa, kemudian akan terlahir di alam dengan kesengsaraan yang tak dapat dibayangkan. Jika, sebaliknya, saya telah melakukan perbuatan bajik, ketika saya meninggal, saya tidak akan mengalami rasa takut yang besar maupun derita dan akan terlahir di alam bahagia.” Ini merupakan cara berpikir yang tepat tentang kematian.

Melakukan meditasi ini bukan berarti kita memiliki pandangan yang suram dan pesimistis sehingga berpikir, “Saya akan meninggal dan tidak bisa berbuat apa-apa kecuali pasrah,” tetapi renungkanlah dengan cerdas, “Ke mana saya akan pergi setelah meninggal?
Perbuatan saya akan menyebabkan saya terlahir kembali di alam bahagia atau sengsara? Dapatkah saya meninggal dengan damai? Bagaimana caranya? Dapatkah saya mewujudkan kelahiran kembali yang bahagia di masa depan? Bagaimana caranya?”

Saat merenungkan kelahiran kembali di masa yang akan datang, kita harus ingat bahwa tidak ada tempat dalam siklus kehidupan yang dapat dijadikan tempat pijakan kokoh. Badan jasmani seperti apapun yang kita peroleh, akhirnya akan mati juga. Kita mendengar cerita tentang orang yang telah hidup selama ratusan bahkan ribuan tahun, tetapi sehebat apapun cerita itu mereka semua tetap saja berakhir pada kematian. Semua badan jasmani pasti akan mati.
Selain itu, kemanapun kita berlari, tetap saja tidak bisa menghindari kematian. Dimanapun kita berada, ketika waktunya tiba, kita tetap harus mati. Pada saat itu, tidak ada obat, mantra, ataupun tindakan apapun yang dapat menolong. Operasi dapat mengobati penyakit, tetapi tidak mampu mencegah kematian.

Tak peduli kelahiran jenis apa yang kita peroleh, tetap saja tidak luput dari kematian. Proses ini berlangsung terus-menerus. Perenungan terhadap akibat jangka panjang dari perbuatan kita dan kenyataan bahwa proses kelahiran, hidup, kematian, dan kelahiran kembali akan terus berlangsung membantu kita untuk mengumpulkan jasa kebajikan lebih banyak lagi.

Walaupun terkadang kita berencana untuk mempraktikkan Dharma, kita biasanya berencana melakukannya besok atau lusa. Meski begitu, kita tidak dapat mengetahui kapan kita akan meninggal.

Jika kita dijamin untuk dapat hidup selama ratusan tahun, kita dapat merencanakan praktik jangka panjang, tetapi kita sama sekali tidak tahu kapan kita akan meninggal.
Oleh karena itu, adalah hal yang bodoh jika kita berhenti berlatih. Ada diantara mereka yang meninggal dalam kandungan, bahkan sebelum mereka dilahirkan; yang lainnya meninggal ketika masih bayi, bahkan sebelum mereka belajar berjalan. Suatu hal yang tidak logis jika berpikir bahwa kita pasti akan hidup lama.

Apalagi, tubuh kita sangatlah rapuh. Jika tubuh ini terbuat dari batu atau besi, maka kita bisa berkilah bahwa tubuh itu sangat stabil, tetapi kita bisa lihat dengan jelas bahwa badan kita sangatlah lemah dan setiap waktu bisa saja mengalami kerusakan. Seperti jam tangan indah yang terbuat dari bagian-bagian yang kecil, rentan, dan tak terhitung banyaknya. Jangan mempercayai tubuhmu. Masih banyak lagi kondisi yang menyebabkan kematian kita; makanan yang busuk, gigitan serangga kecil, atau tusukan duri yang sangat kecil. Bahkan hal sepele saja bisa membunuh kita. Bahkan makanan dan minuman yang kita cerna untuk menyokong hidup kita, dapat berubah menjadi penyebab kematian. Tidak ada kepastian mengenai kapan kita akan meninggal atau apa yang akan menjadi penyebab kematian kita.

Bahkan ketika kita merasa yakin bahwa kita akan hidup selama ratusan tahun, sudah banyak tahun berlalu dan kita masih belum juga mencapai kebaikan apapun. Kita mendekati kematian layaknya seseorang yang tertidur dalam kereta api, secara konstan bergerak makin mendekati tujuannya tetapi tidak sadar akan hal tersebut. Tentu saja, tidak ada yang dapat kita lakukan untuk menghentikan hal itu. Kita tetap semakin mendekati kematian secara konstan.

Berapapun banyaknya uang, perhiasan, rumah, ataupun pakaian yang kita kumpulkan selama hidup, tidak akan membuat perubahan apapun pada saat kematian. Ketika kita meninggal, kita pergi ke kehidupan selanjutnya dengan tangan kosong. Bahkan tubuh kita juga harus ditinggalkan, batin dan badan jasmani kita terpisah dan arus batin itu pergi sendirian.

Jika saat meninggal kita harus melepaskan tubuh, sahabat, dan semua harta benda kita, lalu, apa yang mengiringi arus batin kita pada saat itu? Adakah sesuatu yang dapat dibawa pada kehidupan berikutnya? Ya, ada.
Ketika kita meninggal, jejak-jejak karma yang telah kita kumpulkan semasa hidup mengikuti arus batin kita.